Penyakit pelupa yang menimpa bos saya sudah cukup parah, ia sering menanyakan hal-hal yang sebelumnya pernah ditanyakan, menanykan laporan padahal telah kami serahkan, menanyakan arsip/file padahal ada pada dia atau sudah diambilnya. Pernah ketika Kami ditugaskan dinas luar ke Aceh, bos saya menanyakan siapa saja yang akan berangkat ke Aceh maka ditugaskanlah kami berempat, pada malam hari sebelum berangkat kami masih nghobrol dengan beliau di mes dan menanyakan siapa saja yang berangkat ke Aceh, lalu kami jawab kami Pak berempat. Kemudian besoknya ketika kami mau berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta dan bermaksud akan pamitan ke Bos kami, ia menanyakan lagi siapa yang berangkat ke Aceh, tolong tulis nama-namanya. Belum cukup disitu ketika kami telah sampai di Aceh dan bos kami menelpon masih bertanya juga jadi siapa saja yang berangkat ke Aceh. Amnesia bos kami memang sudah cukup parah ia menanyakan siapa saja yang berangkat ke Aceh padahal ia pula yang pertama menugaskan kami ke Aceh tetapi terus menanyakan siapa saja yang berangkat ke Aceh.
Kamis, 30 Oktober 2008
BOS SAYA PIKUN
Menikmati Segarnya Jus Ketimun di Aceh
Jam menunjukan hampir jam dua belas siang waktu kami tiba di Bandara Sultan Isakandar Muda Nangroe Aceh Darussalam. Perut keroncongan karena pagi tadi di Jakarta kami baru sempat makan roti plus kopi ditambah satu air gelas mineral dipesawat. Tak jauh dari bandara ada Restoran Padang maka kami memutuskan untuk sarapan sekaligus makan siang disana. Pas kami baru tiba di restoran langsung disuguhi jus mentimun kata pelayannya ini minuman selamat datang, langsung kami minum ternyata seger banget cocok untuk udara Banda Aceh yang Panas. Ada lagi yang unik yaitu gule sapi tapi ada pisang didalamnya, ya seperti pisang buat kolak waktu bulan puasa. Tapi rasanya tetep aziiip. Konon orang melayu biasa menambahkan buah pisang pada masakan gule, sop atau masakan lainya.
Nikmatnya Kopi Aceh
Jarak dari Bandara Sultan Isakandar Muda ke Koata Pidie (orang Aceh menyebutnya Sigli) kurang lebih tiga jam, jalan yang dilalui kami kondisinya berkelak-kelok dan kondisinya tidak begitu baik. Kami juga melewati tempat-tempat kuburan massal korban tsunami. Di tengah perjalanan mobil elf uang kami tumpangi berhenti untuk istirahat di salah satu tempat peristirahatan yang menurut kami sangat unik dan merupakan salah satu ciri khas kedai Aceh dimana sepereti kafe terbuka dan kursinya cukup unik yaitu kursi plastic tapi ukurannya lebih kecil ceper, (selain di Aceh tempat makan seperti itu bisa ditemui pula di Kota Medan). Maka kami memesan kopi Aceh ingin merasakan bagaimana nikmatnya kopi Aceh, ternyata rasanya memang beda lebih harum dan kopinya lebih terasa. Orang Aceh terbiasa minum kopi di kedai-kedai kopi sambil mengobrol tentang apa saja, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam berada di kedai kopi.
